Harus kepada siapa bertanya ketika semua orang telah lebih dulu jenuh memberi jawab?
Harus kepada siapa bercerita ketika mulut sendiri
begitu susah mengucap perasaan?
Tentang aku yang terlalu lelah berada pada
situasi yang tak pernah tepat. Tentang aku yang terlalu mudah menyerah akan
situasi yang serba salah. Tentang aku yang bahkan tak lagi berhak bercampur
tangan pada tiap hela hidupmu..
Mungkin memang sudah menuju masanya, dimana
hanya ada aku meremas tangis seonggok diri.
Menyesali akan beribu kata yang
seharusnya mampu kuucap, menatap nanar akan berjuta banyak waktu kulewatkan
sia-sia tanpa tau bagaimana harus bertindak bahkan hanya sekedar bersapa adalah
ketidakmungkinan diatas setiap kemungkinan yang seharusnya bisa terealisasi.
Mungkin memang masanya dimana aku terlalu tersilaukan oleh
kilauan cahaya disekelilingku yang begitu tega membunuh apa yang seharusnya
bisa tercuat dari dalam diriku.
Terlalu banyak ungkap pesimisme yang
menjatuhkan dan membuatku sadar bahwa hidup tak selamanya berjalan bersisian
sesuai dengan kehendak diri. Mungkin memang saat inilah masanya dimana seluruh
dunia beramai-ramai seolah bersekongkol pergi meninggalkanku.. Penutupan diri
ini seolah menyisakkan perasaan terkejut yang bagaikan aku hanyalah sebutir
debu yang siap terinjak bahkan tersapu angin kapanpun itu terjadi.
Maaf karena mungkin terlalu sering membuat dunia salah
mengartikan, bukan bermaksud menjauh atau menutup diri akan semua hal, hanya
saja aku tak pantas bahkan hanya sekadar melewatkan waktu bersama. Pesimisme
ini menakutkanku disetiap waktu dunia coba bertanya-tanya bercuriga tentang
siapa sebenarnya diriku, tentang bagaimana sebenarnya kisah hidupku..
Aku tau
tiada manusia yang sempurna, karena cacat dalam hidupku inilah, aku takut dunia
mengetahui kemudian semakin menjauh dari jarak yang memang sudah teramat jauh.
Aku hanya takut tak bisa lagi melukis indah di jeritan kisah-kisah dunia, yang
hanya justru kehadiranku akan menambah perih tiap sayatan luka yang seharusnya
bisa ku balut dan ku obati.
Setiap titik tangis yang jatuh merosoti pipi begitu
menyadarkanku bahwa aku telah kehilangan diriku yang dahulu..
Aku bukan lagi
manusia kuat dan tangguh seperti dulu,
Aku kehilangan semua tentang kisah indah
yang bisa terlewati bersama tanpa ada ketakutan dan tangis air mata.
Aku dulu
pemberani dan terjuluki kesatria..
Tapi, aku hanya gadis biasa yang begitu
bodoh mengalah dengan permasalahan hidup, dengan egoisme dunia yang membuatku
takut bahkan hanya sekedar membuka kelopak mata..
Aku hanya takut disaat ku mencoba
tegak berdiri aku takut tak ada lagi tangan disana, tangan yang akan
menyambutku menggenggam erat kemudian berhasil lagi membuatku berdiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar